music_note
Spoken Word
music_note
Puisi Akustik
music_note
Balada
music_note
Indie
library_music
2 Lagu
Wira Setianagara, yang lebih dikenal secara luas sebagai Wira Nagara, lahir di Jakarta pada 21 November 1992. Mengawali karier publik sebagai finalis unggulan Stand Up Comedy Indonesia Musim ke-5 (SUCI 5) Kompas TV, Wira mencatatkan namanya sebagai satu-satunya 'Komika Budak Sajak' yang memadukan humor sarkastis dengan kepiawaian merangkai puisi patah hati yang sangat menyayat kalbu.
Selain menjadi penulis buku puisi best-seller nasional seperti 'Distilasi Alkena' dan 'Disforia Inersia', Wira aktif merilis karya musikalitas spoken word dan monolog balada cinta berbalut petikan gitar akustik syahdu. Kata-kata puitisnya tentang patah hati ('Merelakan bukan berarti menyerah...') telah dikutip jutaan warganet dan menjadi ikon literasi patah hati anak muda Indonesia.
Wira Nagara rutin menggelar tur monolog pertunjukan seni di berbagai kota di Indonesia, menyatukan sastra, komedi, dan musik ke dalam panggung pertunjukan yang sangat intim.
Bagi para pemain gitar akustik, aransemen dan chord petikan pengiring monolog Wira Nagara menyajikan progresi akor minor akustik yang syahdu dan sangat pas untuk mengiringi pembacaan puisi dan renungan malam.
Wira Setianagara, yang lebih dikenal secara luas sebagai Wira Nagara, lahir di Jakarta pada 21 November 1992. Mengawali karier publik sebagai finalis unggulan Stand Up Comedy Indonesia Musim ke-5 (SUCI 5) Kompas TV, Wira mencatatkan namanya sebagai satu-satunya 'Komika Budak Sajak' yang memadukan humor sarkastis dengan kepiawaian merangkai puisi patah hati yang sangat menyayat kalbu.
Selain menjadi penulis buku puisi best-seller nasional seperti 'Distilasi Alkena' dan 'Disforia Inersia', Wira aktif merilis karya musikalitas spoken word dan monolog balada cinta berbalut petikan gitar akustik syahdu. Kata-kata puitisnya tentang patah hati ('Merelakan bukan berarti menyerah...') telah dikutip jutaan warganet dan menjadi ikon literasi patah hati anak muda Indonesia.
Wira Nagara rutin menggelar tur monolog pertunjukan seni di berbagai kota di Indonesia, menyatukan sastra, komedi, dan musik ke dalam panggung pertunjukan yang sangat intim.
Bagi para pemain gitar akustik, aransemen dan chord petikan pengiring monolog Wira Nagara menyajikan progresi akor minor akustik yang syahdu dan sangat pas untuk mengiringi pembacaan puisi dan renungan malam.
Tentang Wira Nagara
Wira Setianagara, yang lebih dikenal secara luas sebagai Wira Nagara, lahir di Jakarta pada 21 November 1992. Mengawali karier publik sebagai finalis unggulan Stand Up Comedy Indonesia Musim ke-5 (SUCI 5) Kompas TV, Wira mencatatkan namanya sebagai satu-satunya 'Komika Budak Sajak' yang memadukan humor sarkastis dengan kepiawaian merangkai puisi patah hati yang sangat menyayat kalbu.
Selain menjadi penulis buku puisi best-seller nasional seperti 'Distilasi Alkena' dan 'Disforia Inersia', Wira aktif merilis karya musikalitas spoken word dan monolog balada cinta berbalut petikan gitar akustik syahdu. Kata-kata puitisnya tentang patah hati ('Merelakan bukan berarti menyerah...') telah dikutip jutaan warganet dan menjadi ikon literasi patah hati anak muda Indonesia.
Wira Nagara rutin menggelar tur monolog pertunjukan seni di berbagai kota di Indonesia, menyatukan sastra, komedi, dan musik ke dalam panggung pertunjukan yang sangat intim.
Bagi para pemain gitar akustik, aransemen dan chord petikan pengiring monolog Wira Nagara menyajikan progresi akor minor akustik yang syahdu dan sangat pas untuk mengiringi pembacaan puisi dan renungan malam.
Wira Setianagara, yang lebih dikenal secara luas sebagai Wira Nagara, lahir di Jakarta pada 21 November 1992. Mengawali karier publik sebagai finalis unggulan Stand Up Comedy Indonesia Musim ke-5 (SUCI 5) Kompas TV, Wira mencatatkan namanya sebagai satu-satunya 'Komika Budak Sajak' yang memadukan humor sarkastis dengan kepiawaian merangkai puisi patah hati yang sangat menyayat kalbu.
Selain menjadi penulis buku puisi best-seller nasional seperti 'Distilasi Alkena' dan 'Disforia Inersia', Wira aktif merilis karya musikalitas spoken word dan monolog balada cinta berbalut petikan gitar akustik syahdu. Kata-kata puitisnya tentang patah hati ('Merelakan bukan berarti menyerah...') telah dikutip jutaan warganet dan menjadi ikon literasi patah hati anak muda Indonesia.
Wira Nagara rutin menggelar tur monolog pertunjukan seni di berbagai kota di Indonesia, menyatukan sastra, komedi, dan musik ke dalam panggung pertunjukan yang sangat intim.
Bagi para pemain gitar akustik, aransemen dan chord petikan pengiring monolog Wira Nagara menyajikan progresi akor minor akustik yang syahdu dan sangat pas untuk mengiringi pembacaan puisi dan renungan malam.
genetics
Musical DNA & Profil Komposisi
Analisis kecenderungan harmoni, tangga nada favorit, dan gaya penulisan lagu Wira Nagara.
1 Lagu Dianalisis
psychology
100% repertoar lagu Wira Nagara menggunakan tangga nada dasar C dengan rata-rata 8 chord per lagu (Tingkat Menengah).