Laleilmanino didirikan di Jakarta pada tahun 2014 oleh tiga produser jenius tanah air: Arya Aditya Ramadhya / Lale (gitaris MALIQ & D'Essentials), Ilman Ibrahim (kibordis MALIQ & D'Essentials), dan Anindyo Baskoro / Nino (vokalis RAN). Laleilmanino mendominasi industri musik Indonesia dengan memenangkan AMI Awards kategori Produser Rekaman Terbaik 5 tahun berturut-turut.
Karya-karya mahakarya ciptaan dan produksi mereka telah diputar miliaran kali, seperti 'Rayu' & 'Jangan' (Marion Jola), 'Rapsodi' (lagu kebangsaan JKT48), 'C.H.R.I.S.Y.E' & 'Serenata Jiwa Disko' (Diskoria), 'Badai Telah Berlalu' (Diskoria & BCL), 'Tak Ingin Pisah Lagi' (Marion & Rizky Febian), dan 'Si Lemah' (RAN). Progresi akor city pop dan jazz pop yang mereka gubah menjadi standar tertinggi musik pop modern Indonesia.
Laleilmanino didirikan di Jakarta pada tahun 2014 oleh tiga produser jenius tanah air: Arya Aditya Ramadhya / Lale (gitaris MALIQ & D'Essentials), Ilman Ibrahim (kibordis MALIQ & D'Essentials), dan Anindyo Baskoro / Nino (vokalis RAN). Laleilmanino mendominasi industri musik Indonesia dengan memenangkan AMI Awards kategori Produser Rekaman Terbaik 5 tahun berturut-turut.
Karya-karya mahakarya ciptaan dan produksi mereka telah diputar miliaran kali, seperti 'Rayu' & 'Jangan' (Marion Jola), 'Rapsodi' (lagu kebangsaan JKT48), 'C.H.R.I.S.Y.E' & 'Serenata Jiwa Disko' (Diskoria), 'Badai Telah Berlalu' (Diskoria & BCL), 'Tak Ingin Pisah Lagi' (Marion & Rizky Febian), dan 'Si Lemah' (RAN). Progresi akor city pop dan jazz pop yang mereka gubah menjadi standar tertinggi musik pop modern Indonesia.